Kabupaten Kutai Barat

Bupati Kutai Barat mencanangkan Bulan BELKAGA. Jum’at (04/10/2019)

Pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) Ditandai Dengan Pemukulan Gong Oleh Bupati Kutai Barat.kominfo dos.kutaibaratkab.go.id

Pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) Ditandai Dengan Pemukulan Gong Oleh Bupati Kutai Barat.kominfo dos.kutaibaratkab.go.id

Kominfokubar-sendawar. Pemerintah Kutai Barat melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat menggelar Pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (belkaga) yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Kutai Barat dan minum obat pengcegahan filarialis, bertempat dilapangan bulutangkis Kampung Geleo baru, Kecamatan Barong Tongkok. Jumat 04 Oktober 2019.

Kegiatan yang di awali dengan membagikan dan minum secara serentak obat massal pencegah kaki gajah (filariasis) kepada masyarakat sekitar, orang dewasa hingga anak-anak oleh Dinas Kesehatan Kutai Barat dibantu upT dan Puskemas Barong Tongkok juga dihadiri Wakil Bupati Kutai Barat, Sekretaris Daerah Kutai Barat, anggota DPRD serta seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kutai Barat.

Bupati Kutai Barat, Fx. Yapan mengungkapkan, dilaksanakannya kegiatan pencanangan Belkaga untuk menbantu masyarakat dalam mencegah  penyakit kaki gajah terutama di Kutai Barat. “ Program kegiatan ini sangat membantu masyarakat dan terus menerus tiap tahun, supaya anak anak kita tidak terjangkit penyakit kaki gajah”, terangnya

Bupati Kutai Barat menambahkan, penyakit kaki gajah merupakan penyakit menular tapi tidak mematikan namun dampak penyakit tersebut membuat penderita mengalami cacat seumur hidup, maka “Kepada masyarakat selain meminum obat juga menjaga lingkungan sekitar terutama kebersihan, seperti; kebersihan lingkungan, air dan sebagainya juga ikut program gerakan masyarakat sehat, secara berkelanjutan supaya kutai barat bebas dari penyakit kaki gajah”, harapanya.

 

Berdasarkan laporan dari Kepala Dinas Kesehatan Kutai Barat, Ritawati Sinaga, bahwa di Kutai  Barat masih ditemui warga terkena penyakit kaki gajah, namun telah mengalami penurunan angka mikrofilaria rate  dari angka 11,9 pada tahun 2005 menjadi 2,02 pada tahun 2018.  “Maka berdasarkan hasil survery Pre TAS, Kabupaten Kutai Barat masih menjadi daerah endemis filariasis dan wajib melakukan pemberian obat pencegahan masal filariasis selama 2 tahun yaitu 2019 dan 2020”, jelasnya.

Lebih lanjut Kadiskes menjelaskan “Kepada masyarakat diharapkan dapat ikut berpartisipasi dalam menurunkan angka penyakit gajah dengan meminum obat, tidak disimpan ataupun dibawa pulang tetapi segera makan ditempat kemudian melakukan  pola perilaku hidup bersih dan sehat”, pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>