Kabupaten Kutai Barat

Klarifikasi Berita “Kasus Stunting Di Kutai Barat Naik 200 Persen”


Dinas Kesehatan Kutai Barat Klarifikasi ‘Kasus Stunting Di Kutai Barat Naik 200 Persen’ Rabu, (09/10/2019)

Balita yang terindikasi Stunting di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami penurunan cukup signifikan, sejak tahun 2017 hingga tahun 2019.
Berdasarkan Pemantauan Satus Gizi (PSG) yang dilakukan oleh kementerian kesehatan melalui dinas kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tahun 2017, Dari 19.110 balita di Kabupaten Kutai Barat terdata 6.020 diantaranya terindikasi stunting.

Diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat Rita Sinaga berdasarkan Pendataan oleh Petugas Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat (Kubar), per-bulan Agustus 2018 dan Februari 2019, mengalami penurunan hingga 4.976 balita dari 19.200 jumlah balita Sehingga menyisakan 1.044 balita yang kini terindikasi stunting di Kubar.

“dari 31,5 persen ditahun 2017 itu, sekarang ini tinggal 5,44 persen. Cukup jauh penurunannya, itupun setelah dilakukan intervensi,”terangnya.

Untuk diketahui awal pendataan dilakukan di tahun 2017, untuk tahun-tahun sebelumnya tidak ada pendataan terperinci sesuai dengan standar yang diberlakukan pada Pemantauan Status Gizi (PSG) sehingga belum dapat di sajikan data akurat pada tahun-tahun sebelumnya.

Penurunan data indikasi stunting di Kutai Barat berkat intervensi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melaui Dinas Kesehatan, PKK, dinas/badan/instansi terkait lainnya, baik intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil, Kurang Energi Kronik (KEK), suplementasi besi folat, ANC, makanan tambahan balita, pemberian vaksin, obat-obatan, vitamin dan layanan kesehatan lainnya, juga intervensi sensitif seperti penyediaan air bersih, sanitasi, ketahanan pangan dan gizi, selain itu dengan upaya penyuluhan kepada masyarakat terutama kepada ibu hamil agar menjaga asupan makanan yang bergizi seimbang.

Kadis kesehatan menambahkan, melalui Puskesmas dan Petugas Gizi dilapangan juga secara rutin menggalakkan kegiatan Posyandu setiap bulan guna mengetahui hingga mengambil tindakan dalam mendukung perkembangan serta tumbuh kembang Balita dan Ibu Hamil di Kutai Barat.

“Stunting sebenarnya masalah gagal tumbuh pada anak-anak, ini berlangsung lama dan kronis, karena itulah titik awalnya. Jadi bukan karena hanya beberapa waktu lalu menjadi stunting, tapi sudah di mulai sejak belasan tahun yang lalu, mulai dari proses ibu itu remaja, kemudian hamil, melahirkan, sampai bayi berumur dua tahun, Stunting inikan bukan hanya persoalan gizi, tetapi ada faktor lain diluar itu, misalnya sumber pangan yang kurang, kebersihan lingkungan, ketersedian air, jadi semua itu berpengaruh,”ungkapnya.

Pemerintah sudah sangat serius mengatasi persoalan Stunting ini, mulai dari Kepala Daerah, Organisasi Prangkat Daerah (OPD) hingga Pemerintah Kampung saling bekerjasama agar penanganannya terintegrasi.

Bupati Kutai Barat FX. Yapan mengungkapan, “supaya OPD-OPD ini saling bekerjasama, agar penanganannya secara terintegrasi. Dari OPD misalnya dari Perkimtan, DP2KBP3A,PKK, Disdik,PU, Dinas Sosial, dan OPD lainnya”.

Terkait dengan informasi yang beredar mengenai kasus stunting di kutai barat yang di muat oleh beritasatu.com dengan judul “Kasus Stunting Di Kutai Barat Naik 200 Persen”, dan telah diklarifikasi oleh dinas kominfo kutai barat berdasarkan data dan informasi stunting diatas pemberitaan tersebut, merupakan misinformasi dan telah ditindaklanjuti oleh pihak redaksi beritasatu.com dengan menghapus pemberitaannya.

Sumber data : Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat.